Selasa, 01 Desember 2009

KIAT BELAJAR CERDAS
Cara belajar anak tidak dapat disamaratakan. Mereka memiliki gaya masing-masing, yang mereka sesuaikan dengan kemampuan mereka. Sebagai pendidik, guru, dan orangtua tidak dapat memaksakan bagaimana cara belajar yang seharusnya digunakan oleh anak-anak. Tidak ada satu pun cara belajar yang tepat yang harus diterapkan oleh seorang anak. Yang ada hanyalah bagaimana seorang pendidik dapat mengarahkan anak-anak untuk menemukan cara belajar mereka sendiri. Berikan kebebasan terarah kepada mereka sehingga waktu belajar tidak menjadi beban bagi mereka, tetap Jika Saudara memasuki ruang pengemudi sebuah pesawat terbang dengan maksud terbang ke tempat yang jauh, maka akan berguna bagi Saudara bila mengetahui tentang cara terbangnya sebuah pesawat udara dan cara memakainya alat-alat pengemudi tersebut. Tanpa pengetahuan ini tipislah harapan Saudara akan mencapai tempat tujuan itu dengan selamat. Hal ini juga berlaku dalam pelayanan Saudara sebagai guru Sekolah Minggu. Untuk menjadi guru yang efektif, pengertian tentang cara belajarnya para pelajar adalah penting. Sebab kita harus mengajar sesuai dengan cara belajar para pelajar itu. Mari kita lihat seperti apa sebenarnya cara belajar anak melalui ulasan-ulasan berikut ini. 1. Anak belajar secara kontinyu (terus-menerus). --------------------------------------------- Anak senantiasa belajar. Tak pernah mereka berhenti belajar. Bahkan mereka mungkin mempelajari beberapa hal sekaligus, padahal kita tidak pernah bermaksud mengajarkan hal tersebut kepada mereka. Kalau pengajaran kita tidak menantang mereka, boleh jadi mereka "belajar" bahwa Sekolah Minggu sangat membosankan dan tidak menarik. Jika penelitian Alkitab tidak membangkitkan minat, boleh jadi mereka "belajar" bahwa Alkitab adalah buku kuno yang menjemukan dan tidak ada hubungannya dengan masa sekarang. Jika mereka secara pribadi tidak terlibat dalam bagian doa dan penyembahan, boleh jadi mereka "belajar" bahwa saat doa adalah waktu yang baik untuk mengganggu teman yang duduk di sampingnya karena guru sedang menutup mata. Kita sekali-kali tidak akan sengaja mengajarkan hal-hal ini. Namun demikian anak-anak mungkin akan mempelajarinya. Dengan mengetahui bahwa para murid kita belajar secara kontinyu, mungkin akan menolong kita untuk lebih berhati-hati mengenai apa yang kita ajarkan secara tidak langsung melalui suasana kelas. 2. Anak belajar melalui panca inderanya. ------------------------------------- Mereka belajar: a. 1 persen dari apa yang mereka baca. b. 20 persen dari apa yang mereka dengar. c. 30 persen dari apa yang mereka lihat. d. 50 persen dari apa yang mereka lihat dan dengar. e. 70 persen dari apa yang mereka katakan sementara mereka melihat. f. 80 persen dari apa yang mereka katakan sementara mereka melakukannya. Anak hanya mempunyai satu cara belajar, yakni melalui panca inderanya. Panca indera itu merupakan pintu masuk ke dalam kesadarannya. Fakta ini menunjukkan pentingnya penggunaan bermacam-macam bahan bantuan untuk mengajar. 3. Anak belajar melalui kegiatan. ------------------------------ Inilah prinsip yang terpenting tentang cara belajar para murid. Belajar bukanlah pengalaman yang pasif. Hal belajar bukanlah sesuatu yang sekedar terjadi pada anak itu, melainkan adalah sesuatu yang dilakukan oleh anak itu. Anak dapat mengingat paling banyak dari sesuatu yang dipelajarinya dengan cara mengatakan dan melakukan. Anak dapat terlibat dalam proses belajar melalui beberapa cara. Ia bisa belajar secara langsung dalam kegiatan-kegiatan, misalnya mengerjakan proyek-proyek, pekerjaan tangan, diskusi dan drama. Atau melalui lukisan-lukisan cerita ia bisa terlibat, secara tidak langsung karena menempatkan diri dalam keadaan orang lain. Perasaannya dapat dibangkitkan, khayalannya digiatkan, emosinya digerakkan. 4. Anak akan belajar sebaik-baiknya bila ia mempunyai dorongan atau alasan untuk belajar. ----------------------------------------------------------- Anak akan paling cepat belajar bila hal itu dijadikan sesuatu yang menyenangkan dan memuaskan. Dalam proses belajar ada dua macam dorongan. Yang pertama adalah dorongan dari luar, secara lahir. Beberapa contoh dari dorongan sejenis ini ialah ganjaran, hadiah, penghargaan, dan pujian. Dalam mengajar di Sekolah Minggu ada tempat bagi dorongan sejenis ini, tetapi jangan sampai merupakan dorongan satu-satunya. Dorongan yang kedua adalah dari dalam, secara batin. Keinginan, hasrat, dorongan hati pribadi adalah contoh-contoh dorongan sejenis ini. Dalam hal terlibat kebutuhan dan kepentingan yang dirasakannya. Dorongan inilah yang bekerja bila anak itu dipimpin untuk memahami bagaimana kebutuhannya dipenuhi melalui penerapan prinsip-prinsip Alkitab dalam kehidupannya. Sungguh penting bagi kaum remaja dan orang dewasa menginsafi bahwa ajaran Alkitab dapat dipraktekkan bagi keperluan hidup mereka. 5. Anak akan belajar paling baik bila mereka sudah siap untuk belajar. ---------------------------------------------------------- Ini berarti bahwa sebelum pengajar menarik perhatian anak dan membangkitkan rasa ingin tahu mereka, mereka harus disiapkan untuk menerima kebenaran Alkitab. Juga, para murid siap untuk belajar bila mereka dapat melihat hubungan bagian-bagian pelajaran itu dengan keseluruhan pengajaran tersebut. Mungkin sebelumnya pengajar harus memberi uraian pendahuluan tentang seri pelajaran yang baru dan menghubungkan pelajaran-pelajaran yang dahulu dengan keseluruhannya melalui ulangan secara berkala. Suatu prinsip belajar lainnya yang terpaut di sini adalah bahwa para murid belajar hal-hal yang belum diketahuinya berdasarkan hal-hal yang sudah diketahuinya. Ini berarti pengajar harus mengetahui taraf pengertian murid-muridnya dalam hal-hal rohani. Kita harus mengetahui apa yang sudah diketahui para murid kita. 6. Anak belajar dengan jalan meniru. --------------------------------- Fakta ini sekali menunjukkan pentingnya kehidupan pengajar. Kita mengajar, baik dengan perbuatan dan sikap maupun dengan perkataan atau gagasan. Segala sesuatu mengenai diri kita mengajarkan sesuatu. Dalam arti yang sesungguhnya, kita ini adalah "surat ... yang dapat dibaca oleh semua orang." Bahan diedit dari sumber: Judul Buku: Buku Pintar Sekolah Minggu jilid 1 Penerbit : Gandum Mas, Malang, 1997 Halaman : 243 - 244*********************************************************************o/ ARTIKEL (2) MENGENAL TIPE GAYA BELAJAR ========================== Setiap anak mempunyai dan bekerja dengan model atau gaya belajarnya sendiri. Menurut David Kolb (Styles of Learning Inventory, 1981) ada empat jenis atau tipe gaya belajar. [Red. Empat jenis/kuadran yang muncul dari dua sumbu/parameter di bawah ini: Pengalaman KONGKRET (Perasaan) - Konseptualisasi ABSTRAK (Pikiran) Eksperimentasi AKTIF (Berbuat) - Pengamatan REFLEKTIF (Observasi)] a. Tipe 'converger' ---------------- Anak yang memiliki tipe ini belajar melalui proses Konseptualisasi Abstrak (berpikir) dan Eksperimentasi (berbuat). Artinya, dengan kecenderungan ini gaya belajar peserta didik lebih didominasi oleh intelek (pemikiran) dan perbuatan mencoba- coba (dengan pengalaman praktis). Dengan demikian peserta didik menghindari pengajaran yang semata-mata teoritis. Hal teoritis dan praktis harus berjalan seimbang. Gaya semacam ini umumnya mendominasi hidup teknokrat. b. Tipe 'diverger' --------------- Pada tipe 'diverger', anak belajar melalui Pengalaman-pengalaman Kongkret (perasaan) dan Observasi Reflektif (pengamatan). Dengan tipe ini peserta didik lebih didominasi oleh intuisi, perasaan, dan sensitivitas. Ia mengamati contoh yang didemonstrasikan oleh guru dan menyimak hal-hal yang erat kaitannya dengan emosi seperti keindahan gerak dan suasana. Banyak seniman memiliki kecenderungan belajar seperti ini. c. Tipe 'assimilator' ------------------ Anak bertipe 'assimilator' ini belajar melalui Konseptualisasi Abstrak (kuat dalam berpikir) dengan Observasi Reflektif (pengamatan). Peserta didik dengan gaya belajar ini cenderung bersifat teoritis, enggan berbuat. Ia berorientasi kepada buku- buku bacaan dan contoh-contoh. Dari situ ia membangun teori atau keyakinan gaya. Pada umumnya teorisi dan para filsuf (pemikir) berkembang dengan tipe belajar demikian. d. Tipe 'accomodator' ------------------ Pada tipe ini anak belajar melalui Pengalaman Kongkret (perasaan) dan Eksperimentasi Aktif (berbuat). Peserta didik dengan kecenderungan belajar ini lebih didominasi oleh situasi dan hal-hal praktis. Intuisi dan tindakan praktis sangat diutamakan. Ia tak merasakan perlunya teori-teori yang berorientasi kepada buku sumber saja. Baginya pengalaman dan perbuatan aktif di lapangan adalah guru yang terbaik. [Red.: Untuk mendapatkan materi "Gaya Belajar" yang lengkap dengan 'Chart/Bagan' dan deskripsinya, Anda dapat melihatnya di edisi e-BinaAnak no. 45, dari buku yang berbeda dengan pengarang yang sama. Jika ingin melihat arsipnya silakan akses situs SABDA.org atau PEPAK dengan alamat sebagai berikut: - SABDA.org ==> http://www.sabda.org/publikasi/e-binaanak/045/ - PEPAK -- kami minta komentar Anda mengenai situs ini. Kirim ke: <> ==> http://www.sabda.org/pepak/e-binaanak/045/ ] Sumber: Judul Buku: Menjadi Guru Profesional: Sebuah Perspektif Kristiani Pengarang : B.S. Sidjabat, Ed.D. Penerbit : Kalam Hidup, Bandung, 1994 Halaman : 63 - 65**********************************************************************o/ TIPS MENGAJAR (1) MENGAJAR ANAK BELAJAR ===================== Pelayanan kepada anak-anak akan semakin berkembang jika kita memahami dan merencanakan pengalaman-pengalaman yang dibutuhkan dalam tahap-tahap dasar proses belajar anak di bawah ini. 1. Mendengarkan (Listening) ------------------------ Pelajaran dasar yang penting dalam proses belajar anak adalah bagaimana anak dapat mendengar atau memberi perhatian. Guru yang ingin mengawali proses belajar pertama-tama harus dapat mencari cara untuk menarik perhatian anak, antara lain dengan memotivasi anak melalui ruangan kelas maupun aktivitas-aktivitas sehingga anak tertarik dengan materi yang harus dipelajarinya. Misalnya saja, sebuah poster sederhana dengan beberapa pertanyaan di dalamnya dapat digunakan bersama dengan suatu permainan yang membuat anak menemukan definisi kosa kata kunci yang dimaksudkan. Poster dan permainan tersebut merupakan kombinasi efektif yang dapat digunakan untuk memperoleh perhatian anak dan memotivasi anak di awal proses belajarnya. Pada umumnya anak-anak akan memperhatikan sesuatu yang spesifik yang mereka rasa perlu untuk dengarkan, misalnya: "Ada tiga hal yang harus kalian lakukan dalam permainan ini. Dengarkan baik-baik supaya kalian tidak lupa!" 2. Meneliti (Exploring) -------------------- Meneliti, tahap kedua dalam proses belajar, meliputi penelitian yang serius terhadap suatu masalah atau subyek. Anak-anak perlu dilibatkan dalam penelitian tentang sesuatu yang belum pernah mereka ketahui atau mereka alami. Dengan demikian anak tidak lagi menjadi pendengar pasif atau penonton tetapi menjadi pelaku yang aktif berpartisipasi dalam penelitian. Alkitab maupun alat- alat bantu belajar lainnya dapat digunakan dalam penelitian. Selain itu, dalam penelitian anak-anak dapat mengajukan pertanyaan, mendefinisikan masalah atau memberikan usulan tentang pendekatan-pendekatan yang mungkin dapat digunakan untuk menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan. 3. Menemukan (Discovering) ----------------------- Dari mendengarkan dan penelitian yang dilakukannya, anak sekarang mampu menemukan sendiri apa yang dikatakan dalam Alkitab dan dengan bimbingan Roh Kudus, anak merasakan pengaruh yang ditimbulkan oleh Alkitab dalam dirinya sendiri. Menemukan kebenaran sejati Tuhan melalui firman-Nya adalah suatu hal yang menarik. Namun, seringkali satu-satunya orang yang menemukan kebenaran tersebut adalah guru itu sendiri. Meskipun guru akan dengan senang hati membagikan kebenaran tersebut dengan murid-muridnya, tidak ada salahnya jika sukacita yang diperoleh saat menemukan kebenaran sejati Tuhan tersebut juga dapat dirasakan oleh anak-anak di bawah bimbingan gurunya yang terampil. Keterbatasan waktu mungkin akan mengurangi jumlah pengungkapan kebenaran yang dilakukan oleh anak-anak itu sendiri, tetapi seharusnya hal ini tidak dijadikan alasan untuk guru mengungkapkan kebenaran Firman Tuhan seorang diri tanpa melibatkan anak-anak. Tujuan dari penemuan ini adalah agar anak belajar dan menerapkan kebenaran Alkitab, bukan untuk menutupi kebenaran tersebut. 4. Mencocokan (Appropriating) -------------------------- Setelah anak menemukan arti suatu ayat dalam Alkitab, anak perlu merenungkan kebenaran yang ada dalam ayat tersebut. Anak perlu menghubungkan arti-arti dan nilai-nilai yang telah diungkapkannya dengan pengalaman pribadinya. Pengetahuan Alkitab yang tidak diujikan dalam kehidupan pribadi berarti tidak memenuhi tujuan yang dimaksudkan oleh Allah yang membuatnya. Berikan anak-anak bimbingan untuk mencocokkan atau membuat kebenaran Alkitab menjadi miliknya. Angkat suatu permasalahan dalam kehidupan sehari-hari untuk dipecahkan dengan menggunakan kebenaran Alkitab. Misalnya saja, "Josh sangat menyukai bola basket. Ia sedang menyelesaikan ining terakhir ketika ia menyadari bahwa ia telah melanggar jam makan malam. Josh tahu orangtuanya di rumah pasti sudah menunggunya tetapi ia merasa sayang untuk meninggalkan permainannya. Apa yang seharusnya Josh lakukan untuk menyelesaikan pergumulan hatinya? Apa yang dikatakan Alkitab tentang masalah seperti yang dialami Josh ini?" Mengajak anak mencocokkan kebenaran Alkitab dengan suatu pelajaran akan memudahkan anak untuk mengenali arti yang sesungguhnya yang dapat ia terapkan dalam perasaannya maupun dalam perilakunya. Melalui tahap mencocokkan ini, anak dapat mengetahui apa yang diharapkan Tuhan darinya jika menghadapi suatu keadaan atau situasi yang hampir sama dengan kebenaran tersebut. 5. Mempertanggungjawabkan (Assuming Responsibility) ------------------------------------------------ Tahap ini adalah puncak dari proses belajar, tempat di mana tahap-tahap sebelumnya -- mendengar, meneliti, menemukan, dan mencocokan -- mencapai titik kulminasi/klimaks. Di sini, kebenaran Tuhan yang sebenarnya mengubah dan membentuk pola pikir anak serta sikap dan perilakunya. Pada tahap inilah usaha kita mengkomunikasikan kebenaran Tuhan kepada anak-anak menghasilkan perubahan hidup pada anak-anak tersebut. Anak-anak harus kita bimbing untuk melakukan hal-hal tertentu sesuai dengan apa yang telah mereka alami (dari tahap-tahap proses belajar yang telah mereka pelajari). Ujian yang sesungguhnya terjadi ketika anak dengan kemauannya sendiri menggunakan apa yang telah ia pelajari tersebut untuk menghadapi situasi baru yang ia alami. Anak juga dapat mempraktekkan apa yang telah ia pelajari tersebut saat ia sedang melakukan aktivitas bersama dengan teman-temannya yang lain (bersikap baik, ramah, mau berbagi, memaafkan, dsb.). Guru dapat juga menggunakan rencana proyek pelayanan atau kesempatan- kesempatan lain agar anak dapat menerapkan kebenaran Alkitab dalam tindakan nyata. Pada kesempatan lain, anak dapat diberikan kesempatan untuk merencanakan tindakan tertentu yang harus dilakukan untuk minggu yang akan datang. Proses belajar dan pemahaman manusia dapat diringkas dalam langkah- langkah belajar seperti di atas. Mendengarkan, meneliti, menemukan, mencocokkan, dan mempertanggungjawabkan bukan sekedar aktivitas di mana anak ikut terlibat, tetapi juga merupakan satu kesatuan dengan pendidikan Kristen/tujuan dan sasaran pendidikan. Melalui bimbingan Roh Kudus dari guru yang perhatian, aspek rohani dalam kepribadian anak dapat tumbuh dan berkembang. Bahan diterjemahkan dari sumber: Judul Buku: Sunday School Smart Pages Editor : Wes & Sheryl Haystead Penerbit : Gospel Light, Ventura, 1992 Halaman : 123 - 124**********************************************************************o/ TIPS MENGAJAR (2) MENINGKATKAN MOTIVASI ANAK UNTUK BELAJAR ======================================== 1. Dengan memperlihatkan semenjak dini kepadanya bahwa guru maupun orangtua mau menghargai karya-karya orang lain, gemar belajar, dan senang membaca buku. Biasanya anak mencontoh perilaku guru dan orangtua yang seperti itu. 2. Dengan membacakan cerita yang menarik sesuai tingkat perkembangan anak. Pelan-pelan anak akan terdorong untuk bisa dan mau membaca sendiri, untuk memuaskan rasa ingin tahunya terhadap berbagai hal. 3. Dengan memberikan permainan yang edukatif sejak dini, untuk merangsang perkembangan penalaran, sikap, keterampilan motorik, dan kreativitas. 4. Dengan memberi pujian yang wajar terhadap setiap hasil karya anak. Pemberian pujian (apalagi penghargaan). Ini umumnya meningkatkan motivasinya untuk berkarya, atau berusaha lebih bagus lagi. Sumber: Judul Buku: Kumpulan Artikel Intisari: Psikologi Anak Penerbit : Majalah Intisari, Jakarta, 1996 Halaman : 148**********************************************************************o/ TIPS MENGAJAR (3) AGAR ANAK BELAJAR SECARA TERATUR ================================ Setiap manusia pada dasarnya memiliki kekhasannya sendiri. Karena itu individu merupakan istilah yang tepat, yang tidak dapat dibagi- bagi lagi. Individulah unit yang terkecil. Demikian pula halnya dengan anak. Setiap anak memiliki kemampuannya sendiri-sendiri, termasuk dalam hal minat dan cara belajar. Ada anak yang lebih cepat mengerti dengan cara mendengar, tetapi tidak sedikit yang justru lebih paham kalau ia membaca pelajarannya berkali-kali. Problem-problem pendidikan yang kita hadapi pada saat sekarang masih sangat banyak. Untuk menanggulanginya perlu adanya pendekatan secara menyeluruh terhadap semua komponen di dalam sistem pendidikan. Guru dan orangtua sebagai salah satu komponen di dalam sistem pendidikan perlu menjalin hubungan yang erat. Adanya saling pengertian antara guru dan orangtua akan sangat menunjang keberhasilan anak dalam belajar. Peranan orangtua dalam mengantarkan seorang anak ke jenjang keberhasilan dalam studi maupun lingkungan kehidupan, sebenarnya amatlah besar. Karena pendidikan itu dilakukan di rumah, maka banyak orangtua tidak menyadari sejauh mana andil mereka dalam hal ini. Tampaknya hanya sambil lalu saja, dan tidak jarang dalam bentuk omelan atau diskusi keluarga. Akibatnya tidak sempat dikaji, apakah terjadi kekeliruan dalam mendidik, membesarkan serta menyayangi anak-anak. Dapatkah pendidikan yang telah diarahkan guru maupun orangtua diperbaiki atau ditingkatkan? Biasanya setelah anak melakukan tindak-tanduk menyimpang dan sangat tidak diharapkan, barulah guru dan orangtua mencari-cari, dimana gerangan letak kesalahan mereka. Sebagai pendidik, kita pastilah selalu mengharapkan agar waktu belajar dan menyelesaikan tugas-tugas sekolah dapat dilakukan secara teratur tanpa setiap kali harus diiingatkan apalagi dipaksa. Tugas- tugas yang diberikan di sekolah ini diharapkan menjadi kebiasaan sehari-hari yang dilakukan anak dalam suasana yang menyenangkan dengan kemauan dan kesadaran sendiri sehingga pekerjaan itu dilakukan tanpa tekanan. Menurut Dr. Singgih D. Gunarsa, psikolog, kebiasaan belajar pada waktu-waktu tertentu memang perlu ditanamkan sedini mungkin, tetapi harus disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan masing-masing anak. Artinya jangan sampai tugas untuk belajar ini menjadi beban yang memberatkan, sebaiknya ia harus menjadi kebiasaan yang menyenangkan. Cara belajar anak yang tergolong pandai akan berbeda dengan cara belajar anak-anak yang kurang pandai. Anak-anak yang tergolong pandai membutuhkan waktu lebih singkat untuk mempelajari sesuatu, sementara anak-anak yang kurang pandai perlu waktu lebih banyak untuk mencapai hasil yang baik. Sehubungan dengan ini guru dan orangtua perlu lebih memperhatikan adanya perbedaan-perbedaan perorangan pada anak dalam hal kemampuan mereka masing-masing. Kunci untuk mengatasi anak-anak yang mengalami kesulitan belajar ialah adanya pengaturan. Pengaturan itu bukanlah suatu perintah atau ketentuan bahwa ia harus begini atau begitu, namun lebih merupakan satu persiapan yang dilakukan pendidik untuk membantu anak melakukan kegiatan rutin. Disamping kesabaran, dorongan moral guru maupun orangtua tidak kalah pentingnya. Harus diingat, anak perlu mengalami keberhasilan. Setiap keberhasilan anak sebaiknya dihargai. Penghargaan merupakan dorongan moral yang membesarkan hati anak. Dorongan serupa dapat pula diungkapkan dengan cara merangsang rasa ingin tahu anak terhadap buku bacaan. Sebab bagaimanapun, kegemaran membaca, amat menunjang proses belajar. Bahan diringkas dari sumber: Judul Buku: Butir-butir Mutiara Rumah Tangga Pengarang : Alex Sobur Penerbit : BPK Gunung Mulia, Jakarta dan Yayasan Kanisius, Yogyakarta, 1987 Halaman : 155 - 158i sebaliknya menjadi waktu yang menyenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar